Senin, 28 Februari 2011

Harga Minyak RI Tembus 100 Dollar AS

Harga minyak mentah Indonesia atau ICP Februari menembus angka 100 dollar AS per barrel seiring terus berlangsungnya krisis politik di Kawasan Timur Tengah. Untuk itu pemerintah terus mengamati secara sistemik perkembangan situasi di kawasan itu, termasuk jaminan pasokan minyak.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh, usai menghadiri acara pelantikan pejabat eselon II di lingkungan Kementerian ESDM, Senin (28/2/2011), di Jakarta, menyatakan, berdasarkan pengamatan terakhir, kecenderungan harga ICP sudah mencapai 111,36 dollar AS per barrel, dan harga minyak Brent 112 dollar AS per barrel.
"Padahal asumsi dasar harga minyak mentah produksi Indonesia di APBN 2011 sebesar 80 dollar AS. Sejauh ini pemerintah masih terus mengamati secara sistemik perkembangan situasi politik di Kawasan Timur Tengah. Sikap strategis pemerintah itu biasanya didasarkan kepada rata-rata 12 bulan terakhir," kata dia.
Dalam 12 bulan terakhir, dari Maret 2010 sampai minggu terakhir Februari 2011, rata-rata harga minyak mentah produksi Indonesia sekitar 83,45 dollar AS per barrel. "Jadi artinya kita tidak bisa terlalu gugup. Yang penting adalah proaktif dan sistematis. Memang telah mencapai 112 dollar AS per barrel, tetapi kecenderungan rata-ratanya masih sekitar 83 dollar AS per barrel," ujarnya.
Dalam memutuskan langkah-langkah strategis, termasuk mengubah asumsi makro ICP dalam APBN 2011, pemerintah tidak bisa hanya melihat posisi sesaat harga minyak Indonesia. Sebagai contoh, pada tahun 2008, ICP hampir mencapai 140 dollar AS per barrel, tetapi rata-ratanya sekitar 115 dollar AS per barrel. "Jadi enggak pernah itu rata-ratanya bisa sampai tinggi sekali," kata Darwin.

Korupsi, Pertumbuhan, Kemiskinan

Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat, mencapai 6,1 persen pada tahun 2010. Pendapatan per kapita pun naik lumayan, telah mencapai di atas 3.000 dollar AS pada tahun yang sama.
Angka kemiskinan dan tingkat pengangguran juga turun. Masih cukup banyak data lainnya yang menunjukkan bahwa perekonomian kita mengalami perbaikan.
Namun, mengapa persepsi masyarakat berdasarkan berbagai survei mengindikasikan bahwa keadaan semakin sulit. Ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah di bidang ekonomi juga meningkat.
Mengapa pedagang kaki lima kian menjamur di kota-kota besar? Mengapa preman merajalela? Mengapa semakin banyak saja tenaga kerja Indonesia terpaksa mengadu nasib di luar negeri dengan taruhan nyawa sekalipun?
Tentu ada yang salah dari proses pembangunan yang dari sosok luarnya menunjukkan perbaikan. Perbaikan itu pun masih perlu dipertanyakan kualitasnya. Kalau saja pertumbuhan ekonomi cukup berkualitas, tentu tak akan banyak muncul anomali ataupun kontradiksi.
Salah satu penyebab utama rendahnya kualitas pertumbuhan adalah korupsi. Praktik-praktik korupsi di segala lini kehidupan menyebabkan investasi terhambat. Pengusaha membutuhkan dana lebih besar untuk menjalankan usahanya.
Di masa Orde Baru yang kita yakini tingkat korupsinya sangat parah, pengusaha masih bisa meraup laba karena persaingan dari luar negeri dibatasi dengan berbagai bentuk perlindungan.
Korupsi juga menyebabkan kualitas infrastruktur rendah. Penggelembungan nilai proyek dan pemotongan standar baku yang dipersyaratkan dalam kontrak membuat kualitas bangunan sangat buruk sehingga cepat rusak.
Teramat mudah menemukan buktinya dengan kasatmata: jalan yang mudah berlubang dan menjelma menjadi kubangan, jalan khusus bus transjakarta, dan bangunan-bangunan pemerintah. Ongkos pemeliharaan jadi mahal sehingga mengorbankan anggaran yang sepatutnya lebih banyak dialokasikan untuk orang miskin.
Agaknya tak berlebihan kalau kita kian meyakini bahwa sumber kebocoran terbesar adalah dari penerimaan perpajakan. Bagaimana mungkin nisbah penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (tax ratio) justru mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir dibandingkan dengan selama lima tahun sebelumnya berturut-turut.
Dengan penurunan penerimaan pajak, peran pemerintah untuk melayani rakyat melemah. Porsi pengeluaran pemerintah di dalam produk domestik bruto tak kunjung menembus 10 persen. Padahal, di negara yang sangat liberal seperti Amerika Serikat sekalipun, porsinya mencapai 20 persen.
Bukankah menyerahkan kegiatan ekonomi pada mekanisme pasar juga mensyaratkan hadirnya peran negara yang lebih kuat, terutama dalam menciptakan jaring-jaring pengaman pasar agar kelompok-kelompok yang rentan bisa terlindungi.
Jaring-jaring pengaman pasar wajib ada dan melekat di dalam sistem pasar. Dana untuk itu dari mana lagi kalau bukan dari pajak, yang merupakan perangkat untuk meredistribusikan pendapatan dari yang lebih mampu ke yang kurang mampu.
Kalau begini terus, APBN kian mandul untuk memberdayakan rakyat. Tanda-tandanya mulai tampak. Tahun 2010 kita sudah mengalami defisit dalam keseimbangan primer (penerimaan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang). Defisit keseimbangan primer baru pertama kali terjadi dalam 10 tahun terakhir.
APBN yang kian mandul berdampak pula pada pelemahan kemampuan pemerintah untuk menyuntikkan dana segar ke sektor-sektor yang seharusnya memperoleh prioritas, seperti sektor pertanian dan atau pedesaan. Bagaimana mungkin hendak memerangi kemiskinan jika basis kemiskinan yang notabene ada di pedesaan—hampir dua pertiga penduduk miskin ada di desa—tak kunjung disentuh dengan serius.
Justru sektor pertanian kian terbebani karena sumbangsih sektor industri manufaktur—yang seharusnya jadi pengimbang—terus saja menurun. Terbebani karena pilihan bagi pencari kerja adalah kembali ke sektor pertanian atau memadati sektor informal. Karena itu, pekerja informal bertambah banyak, sekitar 70 persen dari semua orang yang bekerja. Tak diragukan lagi, pertumbuhan gagal menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.
Selanjutnya, pertumbuhan yang tidak berkualitas akan membuat hampir separuh penduduk rentan terhadap gejolak ekonomi. Sedikit saja harga-harga pangan naik membuat penduduk yang nyaris miskin jadi benar-benar miskin, tak lagi mampu menopang kebutuhan hidup minimumnya: 2.100 kalori per kapita sehari ditambah dengan pendidikan dasar dan kesehatan dasar.
Kalau sekadar mengurangi kemiskinan, pemerintah bisa saja memberikan bantuan langsung tunai, pelayanan kesehatan, dan pendidikan dasar gratis. Namun, mengisi kemerdekaan tak cukup sampai di situ. Yang harus dilakukan adalah memerangi kemiskinan, membongkar akar-akar kemiskinan.
Yang paling jitu adalah dengan menciptakan lapangan kerja bermutu. Untuk itu, tak ada pilihan lain kecuali memberdayakan sektor pertanian, membangun pedesaan dengan sungguh-sungguh, dan memacu industrialisasi.
Menyerahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar saja tak cukup. Peran aktif negara harus lebih mengedepan. Dengan memberantas korupsi, peran negara niscaya akan lebih mumpuni. Plus, perubahan paradigma pembangunan, tentu saja.
Tidak boleh ada kemiskinan di bumi Indonesia Merdeka, kata Bung Karno. Syarat perlunya adalah berantas korupsi. Sebab, sesuai dengan slogan PBB: ”The cost of corruption is poverty, human suffering and under development. Everyone pays.”
Faisal Basri Pengamat Ekonomi

Ogah Umumkan Bunga, Bank Bisa Didenda

Bank Indonesia (BI) menegaskan bakal memberikan sanksi kepada bank yang tak mengumumkan transparansi suku bunga dasar kredit (prime lending rate). Sanksi tersebut berupa denda hingga Rp 500 juta.
Muliaman Darmansyah Hadad, Deputi Gubernur BI, mengungkapkan, sanksi berlaku bagi bank yang tak transparan mengumumkan suku bunga dasar beberapa kredit, seperti kredit korporasi, ritel, KPR, dan non-KPR.
"Sanksi tersebut akan dilihat, apakah disengaja atau tidak," kata Muliaman, Senin (28/2/2011).
Mengutip data Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 3/22/PBI/2001, bank akan diberikan peringatan dua kali melalui surat teguran BI. Jika bank tidak memperbaiki atau mengumumkan laporan keuangan dengan tenggang waktu dua minggu, akan dikenai sanksi Rp 100 juta terendah dan Rp 500 juta tertinggi.
Selain itu, bank juga akan dikenai sanksi administratif, penurunan nilai kredit dalam penghitungan tingkat kesehatan, pencantuman anggota pengurus, pegawai bank, pemegang saham dalam daftar orang-orang yang dilarang menjadi pemilik dan pengurus bank. Sanksi juga dilakukan dengan cara pembekuan kegiatan usaha tertentu serta larangan turut serta dalam kegiatan kliring.
Informasi saja, bank yang pada atau setelah tanggal 28 Februari 2011 berdasarkan laporan bulanan bank umum (LBU) mempunyai total aset Rp 10 triliun atau lebih wajib melakukan publikasi informasi SBDK dalam rupiah melalui papan pengumuman di setiap kantor bank. Halaman utama situs web bank, dalam hal bank yang memiliki situs web. Surat kabar, yang dilakukan bersamaan dengan pengumuman laporan keuangan publikasi triwulanan untuk posisi akhir bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Ekonom Bank Mandiri Tbk (BMRI) Mirza Adityaswara menilai, aturan awal prime lending rate merupakan bentuk eksperimen BI. Penerapan tersebut membutuhkan proses lama untuk mengetahui seberapa besar bunga yang kompetitif antarbank.
Menurut dia, jika melalui peraturan ini masyarakat mengharapkan suku bunga kredit dapat turun, itu tidak mudah. "Karena bank-bank itu butuh modal yang baik, sementara pemerintah tidak pernah memberikan modal, lihat saja bank BUMN mencari modal dari capital market," kata Mirza.
Mirza bilang, dalam memberikan ruang kompetisi perbankan, bukan hanya sekadar transparansi SBDK, melainkan dalam jangka panjang level kompetisi perbankan perlu fasilitas untuk mendorong kredit di sektor mikro dan ritel. "Bank juga perlu untung di sektor mikro dan ritel," tambah Mirza. (Nina Dwiantika/Kontan)

Harga Emas Merangsek Naik

Krisis Timur Tengah membuat harga emas terus melaju mendekati rekor tertingginya, sebagaimana krisis ini yang juga mendorong harga minyak terus melambung.
Harga emas untuk pengiriman segera hari ini naik 0,3 persen menjadi 1.415,15 dollar AS per ounce dan diperdagangkan di harga 1.413,25 dollar AS per ounce pada pukul 10:47 waktu setempat. Harga emas hari ini telah mengalami kenaikan hingga 6 persen sejak awal bulan.
Sementara itu harga emas untuk kontrak pengiriman April 2011 naik 0,5 persen menjadi 1.415,60 dollar AS per ounce. "Pergerakan harga emas seiring dengan minyak karena pembelian safe-haven meningkat akibat kerusuhan di Libya dan negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah," kata Mark Pervan, analis ANZ Banking Group Ltd.
Level resisten emas di posisi 1.420 dollar AS per ounce. "Pasar bisa jadi akan menyaksikan harga rekor emas lagi," kata Ong Yi Ling, analis Phillip Futures Lte Ltd di Singapura. Sekadar informasi, harga emas tertinggi terjadi pada Desember di angka 1.431,12 dollar AS per ounce. (Rizki Caturini/Kontan)

Minggu, 27 Februari 2011

Warren Buffet Berburu Perusahaan

Para investor, bersiap-siaplah. Investor legendaris Warren Buffet sedang memburu perusahaan untuk diakuisisi.
Dia telah menyiapkan dana sebesar 38 miliar dollar Amerika Serikat untuk aksi tersebut. Keinginan Buffet tersebut disampaikan lewat surat kepada pemegang saham Berkshire Hathaway Inc, Sabtu (26/2/2011).
Bukan hanya itu, Buffet juga memasang target laba yang cukup agresif bagi Berkshire tahun ini. Buffet menyatakan, perusahaannya akan menyiapkan anggaran belanja yang cukup besar seiring dengan pulihnya pasar properti.
Dia juga menekankan, bisnis non-asuransi Berkshire perlu diperluas. "Senjata gajah kami telah terisi. Jari saya sudah gatal untuk menariknya," kata Buffet.
Surat tahunan Buffet ditunggu oleh banyak para investor. Banyak yang rela bangun pagi-pagi untuk mendengar isi surat tersebut.
Para investor menilai surat Buffet tersebut sangat optimistis. "Surat itu merayakan keberanian atas nama investor untuk pergi ke pasar ketika dunia sedang takut," kata Tom Russo, partner Di Garner Russo & Gardner, salah satu pemegang saham terbesar Berkshire. (Edy Can/Kontan)

Dijual Rumah Jl.Sultan Sulaiman Sambutan Gg.Amaliah

Dijual Rumah Jl.Sultan Sulaiman Sambutan Gg.Amaliah LT/LB 200M/84M, PLN, PDAM, RT, RK, 3KT, RM, KM, DAPUR, GARASI 400Jt/Nego Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754 

Dijual Cepat Ruko Pasundan

Dijual Cepat Ruko Pasundan Jl.Pasundan 2Lantai LT 121m2 LB 160m2, PLN 4300waat, PDAM, Cocok Untuk Kantoran/Usaha, Dll. Harga 1M Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754
 

Dijual Honda Jazz IDSI Matic Tahun 2005 Warna Biru

Dijual Honda Jazz IDSI Matic Tahun 2005 Warna Biru Harga 137Jt/Nego
Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Investor China Mulai Ukur Jalur KA

Investor China yang akan membangun jalur kereta api untuk menghubungkan sejumlah provinsi di Pulau Sulawesi memulai tahap pengukuran.
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) Harry Warga Negara pada Sabtu (26/2/2011) di Mamuju mengatakan, investor China yang akan membangun jalur kereta api (KA) di Sulbar dan sejumlah provinsi lain di Sulawesi memulai tahap pengukuran.
Menurut dia, pembangunan jalur KA tersebut segera direalisasikan setelah investor menyelesaikan tahap pengukuran.
Ia mengatakan, pembangunan jalur KA tahap pertama di Sulawesi akan dilakukan mulai Kota Makassar, Kota Parepare, hingga Kota Palopo, Sulawesi Selatan, sepanjang 700 kilometer.
Kemudian kata dia, pada tahap kedua nantinya, pembangunan jalur kereta api dari Parepare menuju empat Kabupaten di Provinsi Sulbar yakni Kabupaten Polman, Majene, Mamuju dan Mamuju Utara akan dibangun dengan jarak sekitar 550 kilometer (km).
Pada tahap ketiga, dia menuturkan, jalur akan dibangun dari kota Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, menuju Kota Palu, Sulawesi Tengah, dan Kota Manado, Sulawesi Utara, dengan panjang sekitar 1.000 km.
Ia mengatakan, sebelum membangun jalur KA antara Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Utara, investor China akan melakukan studi kelayakan dan kajian analisis mengenai dampak lingkungan.
"Pembangunan jalur KA oleh investor China tersebut sebagai bentuk investasi di bidang infrastruktur untuk mengelola kekayaan alam di sejumlah daerah di Sulawesi," katanya.
Menurut dia, pembangunan jalur KA di Pulau Sulawesi dikoordinasikan dengan enam gubernur pada 23 Oktober 2010 di Sulbar dan telah disepakati.
Menurut dia, dengan pembangunan jalur KA, sarana transportasi darat di daerah ini semakin bertambah dalam menunjang pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan akses transportasi darat masyarakat.
"Kami berharap pembangunan jalur KA tersebut akan meningkatkan investasi dan ekonomi daerah ini sehingga terus berkembang seperti di Pulau Jawa," katanya.

Jumlah Wirausaha Indonesia Masih Rendah

Jumlah wirausaha di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan jumlah wirausaha di negara luar.
"Jumlah wirausaha di Indonesia masih perlu digenjot karena dianggap masih sangat rendah sehingga tidak dapat mendukung tumbuhnya perekonomian di Indonesia," kata Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarifuddin Hasan saat berkunjung di Sulawesi Barat, Sabtu (26/2/2011).
Ia mengatakan, jumlah wirausaha di Indonesia hanya sekitar 0,24 persen dari jumlah penduduk di Indonesia yang jsekitar 238 juta jiwa. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan dengan jumlah wirausaha di beberapa negara luar yang tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi.
Menurut dia, jumlah wirausaha di luar negeri, seperti Amerika Serikat yang merupakan negara maju di dunia, mencapai sekitar 11 persen. Jumlah wirausaha di Singapura juga tinggi, mencapai 7 persen, dan di Malaysia mencapai 5 persen.
Syarifuddin Hasan mengatakan, melihat perbandingan jumlah wirausaha di negara maju dengan jumlah wirausaha di Indonesia, maka wajar jika ekonomi di Indonesia juga masih melambat.
Oleh karena itu, ia mengatakan, Pemerintah Indonesia sedang berfokus meningkatkan jumlah wirausaha agar dapat berperan dalam mendukung ekonomi negara agar lebih maju pada masa mendatang.
"Generasi muda di semua daerah harus mengembangkan sektor kewirausahaan dengan mendorong mereka menjadi pengusaha dan mendapat dukungan pemerintah,"katanya.
Ia mengatakan, masyarakat di Indonesia harus diubah agar tidak lagi menjadi pencari kerja, tetapi menyediakan lapangan kerja melalui kreasi dan kreativitas yang bermanfaat bagi ekonomi negara.
Menurut dia, pemerintah juga akan mendukung program pengembangan kewirausahaan dengan memberikan bantuan modal kepada pelaku usaha, seperti kredit usaha rakyat melalui perbankan.

18 Tahun, Sudah Punya Puluhan Karyawan

Bisnis aneka minuman cepat saji kian mengalir. Mulai mengusung merek pribadi hingga waralaba (franchise). Bahan dasarnya bisa susu, cincao, teh, sinom alias jamu, buah, hingga yang serba racikan sendiri. Bisnis teh kemasan siap saji misalnya, banyak diminati lantaran keuntungan yang diperoleh cukup besar, cara pembuatannya juga tak sulit.
Meracik teh yoghurt kini menjadi andalannya. Padahal, Victor Giovan Raihan, pelajar 18 tahun ini, semula hanya iseng-iseng saja membuat minuman yang memadukan teh dan susu fermentasi ini. Hasilnya, minuman olahannya ternyata memiliki banyak penggemar.
“Modal awalnya Rp 3 juta dengan meminjam dari orangtua sekitar 2010. Saat ini per outlet paling apes menghasilkan Rp 2 juta per bulan. Outlet lain yang ramai bisa lebih dari itu,” aku pemilik merek Teh Kempot ini.
Ide menamai Teh Kempot berasal dari cara orang minum teh kemasan dengan sedotan, jika teh terasa enak dan hampir habis pasti orang akan terus menyedot hingga bentuk pipinya kempot. Begitu kira-kira harapan Victor menjadikan teh yoghurt berasa paling yummy.
Sulung dua bersaudara yang bersekolah di SMA Negeri 1 Kepanjen ini memiliki 10 outlet yang dikelola sendiri dan 17 outlet yang dikelola oleh mitranya. Bermitra dengannya cukup bayar Rp 3,5 juta dan akan mendapatkan 1 paket booth (gerobak), alat masak dan 100 cup (gelas kemasan) pertama. Dua mitra diantaranya ada di Jakarta dan Palembang, lainnya tersebar di Kota Malang.
“Saya belum berani menjual hak dagang secara franchise karena masih sangat pemula. Jujur saja bisnis teh kemasan siap saji ini marjin keuntungannya bisa 350 persen. Kalau kuliner seperti, Bakso Mercon yang sedang saya kelola, marjin keuntungannya hanya 100 persen,” lanjut putra pasangan Sri Winarsih dan Bambang Hermanto.
Victor memang lebih dulu mengelola bisnis bakso, ketimbang teh yoghurt. Outlet baksonya baru ada lima, kesemuanya ada di Malang. Tahun ini, ia berencana nambah lima outlet. Bisnis yang dikelolanya ini belakangan berkembang ke minuman. Alasannya sederhana, kalau orang makan bakso pasti butuh minum.
“Saya coba beli daun teh setengah matang dari pemasok, saya kelola sendiri lalu saya mix dengan yoghurt (susu fermentasi). Ada rasa lemon tea, stoberi, dan cokelat,” ujar pria yang bermukim di Jl Panji II Kepanjen ini.
Per kemasan atau segelas teh yoghurt ukuran 250 ml dijual seharga Rp 2.000-2.500. Jumlah karyawan yang bekerja padanya kini tak kurang dari 50 orang, termasuk untuk outlet bakso dan teh yoghurt.
Setiap harinya, ia bisa menghabiskan 20 kg daun teh kering untuk diproduksi atau menjadi 70 gelas. Gula yang dibutuhkan 4 kg per outlet per hari. Sedangkan kebutuhan daging untuk bakso sekitar 20 kg per hari.
“Usaha bakso tetap akan jadi core business saya karena omzetnya besar. Kalau teh hanya sampingan. Ke depan, saya akan tambah mitra di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Sidoarjo,” lanjut Victor.
Ia mengaku, jalan yang ia tempuh dari hasil kerja kerasnya kini membawa keberuntungan yang luar biasa di usianya yang masih belia. “Saya tidak tahu jika dulu saya mengikuti anjuran ayah untuk sekolah di kepolisian apa ‘omzet’nya akan sebesar ini. Keluarga besar saya semua di jalur angkatan bersenjata. Tapi saya tidak minat mengikuti jejak tersebut,” yakinnya.
Untuk perluasan usaha, Victor masih enggan mengajukan kredit kemana-mana. Pakai modal pribadi dan pinjam orangtua masih memungkinkan. “Toh bapak saya dapat fasilitas kredit dari bank, yakni kredit kepolisian. Saya pinjam dari situ juga,” pungkasnya. (Dwi Pramesti YS) SURYA

Mengintip Manisnya Bisnis Donat Ubi

Selain kentang, kini ubi juga bisa menjadi campuran bahan baku pembuatan donat. Potensi bisnisnya masih besar karena ubi yang mempunyai rasa manis alami cocok untuk penderita diabetes. Pemain usaha ini juga masih sedikit.

Ubi (Ipomoea batatas) sering diolah menjadi makanan kecil atau camilan. Tak hanya disajikan dalam bentuk gorengan, kini ubi juga bisa menjadi bahan baku donat layaknya kentang.

Sebagai bahan baku donat, ubi mempunyai tekstur lebih lembut. Tak heran, donat yang terbuat dari ubi kini banyak peminatnya. "Kini ubi bisa menjadi alternatif bahan baku donat," ucap Halim Wibowo, pemilik Oishii Donut, pembuat kue yang tengahnya bolong itu dengan memakai ubi.

Produsen donat asal Surabaya, Jawa Timur, ini bahkan mengklaim sebagai pembuat donat pertama berbahan ubi. "Kami menemukan ubi sebagai alternatif bahan baku donat," ujar Halim. Selain di Surabaya, pembuatan donat ubi juga berkembang di Cimahi, Jawa Barat. Satu pemainnya, Donat Ubi Doni.

Bukan cuma menjadi camilan yang hangat di mulut dan mengenyangkan perut, ubi juga memiliki manfaat yang bagus untuk kesehatan. Selain kaya akan serat, Halim mengatakan, donat ubi memiliki kandungan beta karoten, vitamin A, dan antioksidan yang menangkal radikal bebas.

Tak ketinggalan, Halim pun berpromosi donat buatannya kaya akan kandungan serat larut yang berguna untuk mengikat kolesterol dalam darah. Selain itu, ada juga kandungan oligosakarida yang berfungsi sebagai prebiotik dan kandungan vitamin A, B6, E, serta K.

Berbeda dengan donat kentang, pembuatan donat ubi memiliki beberapa keunikan, seperti tekstur dan warna. Tekstur donat berbahan dasar ubi lebih lembut dari donat kentang. "Warna yang dihasilkan juga lebih beragam tergantung pada jenis ubi yang dipakai," tutur Dian Firdaus, pemilik Donut Ubi Doni.

Aroma donat ubi pun lebih khas. Bahan baku ubi juga memberikan rasa manis alami. "Rasanya tak terlalu manis sehingga penikmatnya tak cepat enek," tutur Halim.

Seperti donat kentang, dalam proses produksi donat ubi, para produsen juga masih menggunakan tepung terigu. "Untuk membuat 1 kilogram bahan donat, biasanya digunakan 200 gram ubi dan 800 gram tepung terigu," ujar Dian. Ubi yang dipakai bisa ubi yang dagingnya berwarna ungu dan kuning.

Dalam satu kali proses produksi donat donat ubi, Donat Ubi Doni bisa membuat hingga 200 donat. Mereka membanderol harga donatnya antara Rp 2.500 hingga Rp 5.000 per buah.

Harga ini tergantung pada ukuran dan jenis topping-nya. Contohnya, harga donat dengan topping gula halus hanya dipatok Rp 2.500. Adapun harga donat berbalut cokelat Rp 3.500 dan donat bertabur keju Rp 4.000.

Dian juga menjual donat berisi selai dengan harga Rp 5.000 per buah. Selain di Cimahi, Dian juga sudah memasarkan donat ubi di Bandung dan Jakarta. "Banyak juga teman saya di luar kota yang memesannya," tutur Dian.

Meski skala usahanya masih mungil, dalam sebulan Dian bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 15 juta. Adapun Halim, yang hanya menjual donatnya di Surabaya, bisa meraup omzet antara Rp 10 juta sampai Rp 12 juta.

Halim juga menjamin donatnya bisa bertahan hingga 36 jam. Melihat potensi pasar donat ubi yang besar, ia pun berniat membuat cabang baru. (Mona Tobing, Handoyo/Kontan)

Konflik Libya Bisa Pengaruhi Harga Minyak Indonesia

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional mengakui, konflik politik yang tengah terjadi di beberapa negara, seperti Libya, memberikan pengaruh yang signifikan terhadap harga minyak. Menanggapi hal tersebut, pemerintah menyatakan tengah menyiapkan simulasi kondisi harga minyak dan dampaknya terhadap perekonomian. Tujuannya, agar lebih siap ketika gejolak harga minyak dunia terus terjadi pada waktu mendatang.
"Ini masalah external shock dan di luar kendali pemerintah. Kita hanya berharap konflik di Libya cepat selesai," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Armida Alisjahbana, akhir pekan lalu.
Meningkatnya harga minyak dunia, yang saat ini lebih dari 100 dollar Amerika Serikat (AS) per barrel, turut berdampak pada perekonomian nasional. Namun, Armida mengaku pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak dunia. Hanya saja, menurut dia, tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah karena gejolak itu timbul dari pihak eksternal.
Meskipun harga minyak masih fluktuatif, ia mengatakan, pemerintah belum berniat mengubah asumsi makro dalam waktu dekat. Harga minyak Indonesia, yang dipatok pada kisaran 80 dollar AS per barrel, dinilai masih relevan sebab asumsi tersebut merupakan asumsi harga tahunan. (Irma Yani/Kontan)

Dijual Escudo 1.6 Hitam Tahun 2005

Dijual Escudo 1.6 Hitam Tahun 2005 Harga 130Jt/Net Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Honda City Tahun 2004 Metik Warna Merah

Dijual Honda City Tahun 2004 Metik Warna Merah Ada Sound Harga 128Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Suzuki Swift Desember Tahun 2007 Manual Warna Biru Metalik

Dijual Suzuki Swift Desember Tahun 2007 Manual Warna Biru Metalik Harga 137Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Sabtu, 26 Februari 2011

Dijual Aveo

Dijual Ganti DP 68Jt/Nego Aveo Ansuran 2.760.000 X13 Bulan Km 29.000 Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Ganti DP Aveo Warna Biru

Dijual Ganti DP 70Jt/Nego Aveo Warna Biru Ansuran 2.760.000 X13 Bulan Km 29.000 Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754 

Dijual Pick Up T120SS Warna Putih 2010

Dijual Pick Up T120SS Warna Putih 2010 Lengkap & Mulus Harga 95Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Wahyuni, dari Kaki Lima Jadi Juragan

Tidak pernah terbayang di pikiran Wahyuni meraup omzet ratusan juta rupiah saat memulai usaha mainan edukatif. Maklum, dia mengawali usahanya dari kaki lima. Sekarang, perempuan berusia 33 tahun ini tak perlu lagi menjual langsung mainan buatannya. Ada banyak pedagang mainan yang membeli produknya untuk dijual kembali.
Perasaan bosan hanya menjadi ibu rumah tangga merupakan alasan awal Wahyuni, atau yang kerap dipanggil Yuni, memulai usaha berjualan mainan anak. Tahun 2007, dia mulai membeli mainan edukatif asal China.
Kemudian, dia menjualnya kembali ke sebuah pasar kaget di Bogor, Jawa Barat. Pasar kaget setiap akhir pekan itu selalu menjadi tempat langganannya untuk usaha. Terbukti, barang dagangannya laris manis. Karena itu, ia mulai menjajaki pasar yang lebih luas dengan mengikuti sejumlah pameran, termasuk membuka satu toko mainan di Giant Mal Bogor.
Keberadaan toko ini tentu membutuhkan pasokan barang yang rutin agar usahanya terus berputar dan bisa membayar uang sewa toko. Namun, Yuni sangat kesulitan mendapatkan pasokan mainan secara rutin. "Barang impor sering kosong. Yang lokal juga kelebihan order," imbuhnya.
Setelah setahun menjalani bisnis mainan edukatif dengan menggantungkan pasokan barangnya dari luar, Yuni membuat sendiri barang-barang tersebut. Kebetulan, saat berjualan di kaki lima, dia bertetangga dengan tukang pembuat mainan. "Awalnya, kami buka di garasi dengan modal sekitar Rp 5 juta," tutur Yuni.
Dengan merek dagang bertajuk Omocha, yang artinya mainan dalam bahasa Jepang, dia membeli dua mesin pembuat mainan. Mereka juga mendirikan usaha bernama CV Omocha Toys.
Karena belum bisa membuat desain sendiri, Yuni pertama kali hanya mencontoh produk-produk impor yang sudah ada. Setelah itu, dia mulai melakukan modifikasi. "Saat ini kami ada tim kreatif sendiri supaya pasar tidak bosan," ujarnya.
Usaha mainan Yuni terus berkembang. Garasi rumahnya sudah terlalu sempit untuk menampung aktivitas usahanya, apalagi debu-debu kayu turut beterbangan ke dalam rumahnya.
Maka dari itu, Yuni pun memindahkan bengkel kerjanya ke lahan yang lebih luas. Di belakang kompleks perumahannya, dia membeli lahan kosong seluas 100 meter persegi dan mendirikan bangunan semipermanen. Ia juga merogoh kocek Rp 80 juta untuk membeli peralatan dan mesin pembuat mainan.
Usahanya sebagai produsen mainan edukatif semakin berkibar. Selain dijual langsung, banyak pedagang yang membeli produknya untuk dijual kembali. Ibu tiga anak ini memperkirakan ada ratusan pedagang dari seluruh Indonesia yang menjadi langganannya. "Paling banyak di Pulau Jawa," katanya.
Produksi Omocha tiap minggu mencapai 1.000 hingga 1.500 puzzle dan ratusan mainan lainnya. Ia dibantu 30 karyawan memproduksi semua mainan Omocha.
Dari produksi itu, CV Omocha Toys bisa mencetak omzet Rp 80 juta hingga Rp 100 juta per bulan. "Kalau pas ada proyek, bisa sampai Rp 200 juta," kata Yuni. Proyek tersebut berasal dari berbagai kalangan, seperti Kementerian Pendidikan, perusahaan, hingga suvenir pernikahan.
Yuni bersedia menerima order suvenir lantaran bahan bakunya juga berasal dari kayu. Tak hanya itu, Yuni juga menerima order pembuatan boneka kayu. "Padahal, saya biasanya tidak membuat boneka," katanya.
Order ini datang dari restoran-restoran untuk hadiah dengan jumlah pembelian tertentu. Begitu juga order dari produsen pakaian yang memberi hadiah puzzle kepada pelanggannya.
Pendapatan yang terus membesar membuat Yuni berpikir mengembangkan usahanya, terutama meningkatkan kemampuan workshop-nya supaya bisa memproduksi mainan lebih banyak. Ia membandingkan, saat ini produsen mainan China bisa memproduksi 1.000 mainan sehari dengan mesin yang lebih canggih. Sementara itu, dia hanya bisa memproduksi 200 mainan per hari. (Wahyu Tri Rahmawati/Kontan)

Erlismiati Usaha Rumahan Rezeki Keluarga

Asal memiliki keinginan kuat, ibu rumah tangga pun bisa mengembangkan usaha home industry sehingga dapat membantu ekonomi keluarga. Itulah yang dilakoni Hj Erlismiati.
"Saya tidak menyangka produk home industry bisa menyamai kualitas produk sejenis buatan pabrik besar. Padahal usaha ini awalnya hanya iseng-iseng untuk mengisi waktu luang dan memanfaatkan Ilmu Tata Boga yang saya kuasai. Alhamdulilah, bermanfaat, hingga saga pernah diajak ikut pameran internasional di Singapura," kata Hj Erlismiati (49), pemilik usaha rumahan LA-Rest saat ditemui Warta Kota di Taman Wisma Asri, Bekasi, belum lama ini.
Percakapan dengan Erlismiati terpaksa dilakukan malam hari karena ibu tiga anak ini sedang sibuk. Saat itu, dia tengah mengikuti pelatihan kentang cara penetapan harga yang diadakan Kementerian Perdagangan, dart tanggal 4 hingga 7 Okober 2010.
"UKM harus tahu ilmu itu agar bisa mengembangkan pasar. Harga harus mencerminkan segmen pasar yang dibidiknya," kata Erlismiati.
Menurut Erlismiati, sambal balado kentang merupakan produk hasil olahan pertanian yang sedang dikembangkan pemerintah. Pekan depan, persisnya tanggal 13 - 17 Oktober 2010, dia akan tampil dalam pameran 'Pangan Nusa ke-5 di Jakarta Expo Kemayoran.
Kabarnya, LA-Rest adalah salah satu pemenang UKM Award untuk kategori kreasi kemasan. "Produk UKM hares memiliki kemasan menarik, selain kelengkapan legalitas, mulai dari izin usaha, produksi hingga sertifikat halal agar bisa diterima pasar. Saat ini, merek LA-Rest sudah didaftarkan, tinggal menunggu hak patennya keluar," kata Erlismiati.
Dengan menjadi usaha rumahan yang modern, pemasaran LA-Rest menjadi semakin luas karena sering diajak berpameran oleh berbagai instansi pemerintah, baik daerah maupun pusat. Saat ini, katanya, produksi sambal balado kentangnya mencapai 30 kg - 50 kg/ha.
Setelah mengikuti 'Pangan Nusa ke-5', Erlismiati sudah ditunggu dua pameran lainnya, yakni, pameran produk olahan dari ikan yang diadakan Kementerian Kelautan tanggal 21 - 24 Oktober 2010, dan sebuah pameran tingkat internasional di Jakarta Expo Kemayoran 21- 30 Oktober 2010.
"Alhamdulillah semua pameran itu gratis. Bahkan, karena kesibukan itu, saya menolak ikut pameran di China karena diadakan pada bulan Oktober ini," katanya.
Mulai dari taklim
Ide membuat usaha rumahan ini sebenarnya sederhana. Erlismiati ingin punya kegiatan produktif di rumah untuk mengusir kesepian dan kejenuhan. Dan mulailah dengan memanfaatkan pengetahuan tata boga (makanan) yang diperolehnya ketika kuliah dulu.
"Awalnya sih saya hanya melayani pesanan tetangga dan saudara, lalu meluas lewat kegiatan majelis aklim dan arisan. Saya sudah mulai kegiatan ini tahun 2004, tapi baru besar-benar menjadi UKM tahun 2007. Saat itu, saya mulai dengan mendaftarkan diri ke Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kota Bekasi," kata Erlismiati.
Dia mengakui, usaha rumahan bisa berkembang menjadi usaha modern karena ada keinginan kuat untuk maju, serta bantuan pembinaan dad pemerintah. Termasuk kerja sama sesama pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi IKM Agro (Aikma) Kota Bekasi serta Asosiasi Makanan dan Minuman (Mamim) Kota Bekasi.
Untuk perkembangan selanjutnya, peran media massa juga sangat signifikan dalam membantu perkembangan UKM. "Pemasaran produk saya bisa menjangkau berbagai daerah di Indonesia, itu berkat liputan televisi. Pesanan datang dari mana-mana, kecuali dari kampung saya di Palembang ..ha..ha," kata pengusaha kelahiran Baturaja itu.
Dengan makin luasnya pasar, semangat Erlismiati untuk memajukan usahanya makin membara. Belum lama ini, dia berhasil membuat berbagai produk olahan dengan bahan baku lele. Mulai dari kerupuk, nuget, pempek, dan tekwan. "Bahkan, sekarang limbah lele seperti ekor dan tulang, tidak terbuang lagi. Semua bisa dimanfaatkan untuk membuat kerupuk," kata Erlismiati.
Berkat kreativitasnya itu, Erlismiati mendapat apresiasi dari Menteri Kelautan Fadel Muhamad pada Pekan Lele se-Indonesia, beberapa bulan lalu.
"Saya senang usaha rumahan bisa dikembangkan untuk membantu ekonomi keluarga. Usaha seperti ini bisa dikembangkan oleh ibu rumah tangga lainnya, asal punya keinginan kuat untuk maju," kata Erlismiati. (hes)
Sumber :
Warta Kota

Triyono, Juragan Agribisnis Beromzet Miliaran

Mungkin kita perlu mencontoh semangat Triyono, finalis tingkat nasional Penghargaan Wirausahawan Mandiri 2010 ini. Meski memiliki kekurangan fisik, ia berhasil mendirikan usaha di bidang agribisnis peternakan dan berhasil mencetak omzet hingga Rp 3 miliar per tahun.
Fisik Triyono memang tak sempurna. Meski ketika berjalan harus ditopang kruk yang mengapit di kedua lengannya, ia berhasil membuktikan kepada dunia bahwa ia mampu memberikan manfaat kepada orang lain.
Ketika ditemui KONTAN, Rabu (19/1/2011) di Jakarta, Triyono terlihat semringah. Berkali-kali ia tersenyum ketika menceritakan awal memulai bisnis. Bukan mengingat kenangan manis, tapi justru soal kesulitan dan tantangan yang ia hadapi saat membangun bisnis peternakan di Sukoharjo.
Tri, sapaan pria yang sejak berusia satu tahun divonis penyakit polio ini, bercerita bahwa ketika terjun di dunia agribisnis, dia tak banyak mendapat dukungan dari kerabat dan keluarganya sendiri. "Mereka saat itu selalu melihat ketidaksempurnaan fisik saya, mereka ragu akan kemampuan saya bekerja. Saat itulah saya merasa tidak berguna," kenang Tri.
Lelaki berumur 29 tahun ini teguh memegang prinsip: sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Penolakan yang selalu disematkan kepadanya ketika mencari pekerjaan menyadarkan Tri bahwa ia harus membangun usaha sendiri untuk mengasapi dapurnya. "Sudah pasti, saya adalah orang pertama yang ditolak perusahaan ketika melamar sekalipun IPK saya bagus," tuturnya sambil tersenyum.
Tri mulai merintis usaha agribisnis peternakan ketika masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Pertanian dan Peternakan Universitas Sebelas Maret, Solo, tahun 2006. Dengan bermodalkan Rp 5 juta, ia memulai usaha bebek potong. Ia membeli 500 bebek untuk dia kembang biakkan dan dibesarkan di lahan pekarangan rumah keluarganya.
Ia benar-benar menerapkan ilmu peternakan yang diperoleh di bangku kuliah. Hasilnya tokcer. Banyak pesanan mampir karena kualitas bebek peternakan Tri terbilang unggul. Bebek hasil ternaknya bukan hanya sehat, tetapi juga memiliki berat proposional. Ini yang membuat harga "si kwek-kwek" selalu bagus.
Pelan tapi pasti, selama setahun Tri mampu mengumpulkan modal dari usaha bebek potongnya. Tri memakai tambahan dana itu sebagai usaha jual beli sapi menjelang Idul Adha.
Awal 2007 ia memberanikan diri memulai usaha jual beli hewan kurban. Ia mengenang, saat itu menjadi tahun terberat baginya. Selain harus mempersiapkan ujian skripsi, ia juga baru merintis agribisnis.
Walhasil, saat pagi hingga siang hari ia harus berkutat dengan kuliah. Setelah itu Tri mencurahkan waktunya membeli dan menjual sapi untuk pasokan hari raya kurban.
Seorang diri, ia memasok hewan-hewan tersebut ke beberapa daerah di sekitar Sukoharjo. Masuk keluar pasar setiap hari sudah menjadi kegiatan rutin. "Saya harus berjalan jauh dengan menggunakan kruk, mencari dan membeli sapi yang berkualitas kemudian mengantar sapi-sapi tersebut ke tempat pesanan," kenang Tri. Tapi, dia pantang menyerah meski beberapa orang kerap menolak bekerja sama dengannya.
Segala usahanya tak sia-sia. Tri lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3,2, dan juga meraih untung dari hasil penjualan sapi kurban. Ia memutar kembali keuntungan itu sebagai modal membeli sapi dan ayam.
Menyadari peluang usaha dari agribisnis cukup besar karena menyangkut kebutuhan primer banyak orang, dengan bermodalkan Rp 20 juta, Tri pun mantap membangun usaha secara serius pada tahun 2008.
Dengan mengibarkan bendera CV Tri Agri Aurum Multifarm, Tri berbisnis peternakan terpadu sapi potong, ayam potong, dan pupuk organik. Meski tak memiliki latar belakang berbisnis, Tri mampu meraih pasar dengan cepat.
Bekal kuliah menjadi nilai plus mengembangbiakkan ternak. Alhasil, pada 2008 dia mampu meraih omzet Rp 50 juta per bulan. Dia juga berhasil membuka lapangan kerja baru di desanya.

Meski tak keluar sebagai pemenang Wirausahawan Mandiri 2010, Triyono tak kecewa. Maklum, sejatinya, melalui ajang bertaraf nasional ini, ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa peternakan sangat layak menjadi pilihan anak muda dalam berusaha. Asalkan, dikelola dengan manajemen yang baik.
Bagi Triyono, persoalan menang atau kalah bukanlah tujuannya mengikuti ajang Wirausahawan Mandiri 2010. Ada gol lain yang hendak dituju. Yakni, mengenalkan CV Tri Agri Aurum Multifarm ke seluruh Indonesia.
Tak hanya itu, Triyono juga ingin menunjukkan ke semua orang bahwa agribisnis bukan hanya usaha yang cocok untuk orang tua, tetapi juga dapat dikelola oleh anak muda seperti dirinya. "Saya ingin usaha agribisnis yang dikelola anak muda menjadi tren," ungkap Triyono.
Sejak mengembangkan usaha agribisnis dengan bendera Tri Agri tiga tahun lalu, omzet Triyono terus menanjak setiap tahun. Jika pada 2008, penghasilannya baru sebesar Rp 500 juta. Pada 2010 lalu pendapatannya melonjak enam kali lipat menjadi Rp 3 miliar.
Berbekal ilmu peternakan yang ia pelajari saat bangku kuliah, Triyono memulai usaha agribisnisnya dengan menjual bebek potong hingga kemudian beternak ayam dan terakhir sapi.
Kualitas ternak-ternak milik Triyono yang dibudidayakan di peternakan seluas 1 hektar tersebut terbilang unggul ketimbang ternak milik pelaku usaha lain. Meski begitu, bukan berarti Triyono boros dalam membudidayakan semua hewan ternaknya, justru sebaliknya. Tapi, "Bukan berarti saya irit memberi makanan ternak, tapi saya memberi makanan ternak secukupnya," ujar pria 29 tahun ini.
Hewan ternak yang diberi makan sesuai dengan asupannya dan tepat waktu lebih sehat dibandingkan dengan hewan ternak yang terus-terusan diberi makan. "Kami selalu memberi pakan tanpa campuran bahan kimia, hanya yang ada di lahan kamilah yang dimakan ternak, misalnya, rumput hijau," kata Triyono.
Cara ini tentu saja dapat menekan biaya operasional. Triyono juga memanfaatkan aneka bumbu dapur, seperti kunyit, jahe, dan lengkuas untuk mengobati ternak-ternaknya yang sakit akibat faktor perubahan cuaca. "Kalau ternak tak nafsu makan, tinggal diberi daun pepaya yang telah ditumbuk halus," imbuh dia.
Memanfaatkan pakan yang bersumber langsung dari alam tanpa campuran bahan kimia, Triyono mengatakan, juga akan menghasilkan sapi, ayam, dan bebek yang sehat dan bebas dari penyakit. Jadi, manajemen pakan, menurut Triyono, adalah 70 persen kunci dari keberhasilannya.
Namun, pola peternakan yang layak ditiru dari Triyono tak cuma sekadar soal memelihara, membesarkan, dan menjual hewan ternak, tetapi juga mengenai pengolahan limbah ternak.
Triyono—yang kerap memberikan penyuluhan kepada mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan Universitas Sebelas Maret Surakarta—memanfaatkan kotoran hewan ternaknya menjadi pupuk kompos, kemudian dijual ke pasar seharga Rp 350 per kilogram.
Dalam sebulan, Triyono dapat mengolah 15 ton kotoran ternak yang disulap menjadi pupuk. Pria yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa (SLB) selama setahun saat usia delapan tahun ini mengatakan, ide mengolah limbah peternakan muncul ketika ia melihat kotoran ternak yang makin menggunung di sekitar lahan peternakannya.
Untuk menjadi pupuk, Triyono mencampur kotoran ternak dengan tanah dan serbuk jerami. Pengerjaannya secara manual. Setelah semua bahan tercampur secara merata, kemudian dibungkus dengan plastik dan siap dijual ke pasar.
Meski usaha agribisnis seperti peternakan telah mengantarkan sebagian orang bergelimang harta, toh sektor ini belum menjadi pilihan kalangan anak muda. Selain masih dinilai terlalu kolot dan hanya cocok untuk orang tua dan masyarakat pedesaan, agribisnis khususnya peternakan dianggap tidak bergengsi.
Apalagi, Triyono mengatakan, memulai usaha di bidang agribisnis harus memiliki modal yang besar. Inilah yang membuat para peternak lebih terlihat sebagai pemasok yang hanya mengejar keuntungan semata.
Padahal, menurut Triyono, kalau usaha ini dikelola dengan baik, niscaya beternak bisa setara dengan usaha-usaha bergengsi lainnya, seperti kuliner, industri kreatif, atau jasa. (Mona Tobing/Kontan)

Gatot Kaca Tembus Dunia

Wayang sudah mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia. Tak cuma berukuran standar, wayang kulit dan golek juga hadir dalam bentuk mini. Selain dalam negeri, peminatnya juga datang dari luar negeri. Perajin pun mendulang penghasilan besar.
Gatot Kaca dengan otot kawat dan tulang besi menjadi tokoh populer dalam dunia pewayangan. Begitu juga dengan Pandawa, seperti Bima dan Arjuna. Pertunjukan wayang kulit dan golek sering mengangkat epos tentang mereka.
Popularitas Gatot Kaca dan tokoh-tokoh dalam dunia wayang membuat suvenir wayang kulit dan golek banyak diminati orang, termasuk wayang yang berbentuk mini. Tak hanya pencinta pertunjukan wayang saja, melainkan juga orang kebanyakan.
Kehadiran wayang mini merupakan salah satu cara untuk makin mengenalkan budaya asli Indonesia, terutama Jawa dan Sunda, ini hingga mancanegara. Sebab, miniatur wayang juga bisa menjadi hiasan untuk mempercantik ruangan Anda.
Dengan miniatur wayang, "Saya ingin wayang lebih dikenal masyarakat, tidak hanya saat pergelaran berlangsung," kata Muadz Hadsi, perajin miniatur wayang golek di Bandung, Jawa Barat.
Muadz membuat miniatur wayang golek sejak 10 tahun lalu dengan bermacam tokoh, seperti Arjuna, Bima, Gatot Kaca, Rama, dan Shinta. Meski bentuknya mini, ia tetap menghadirkan karakter tokoh wayang yang sama dengan wayang ukuran standar yang biasa dipakai dalam pertunjukan. Mulai dari pahatan wajah hingga pakaian.
Tak hanya itu, Muadz juga menggunakan kayu-kayu pilihan sebagai bahan baku utama wayang golek mininya. Proses pewarnaannya pun tak main-main. "Dengan pewarnaan semprot, wayang kelihatan lebih alami dan bagus," ujarnya.
Dengan kualitas jempol yang ditawarkan Muadz, tak heran miniatur wayang golek buatannya tak hanya disukai pasar lokal saja, melainkan juga pasar luar negeri. Setiap bulan, ia rutin mengirimkan produknya ke China dan Korea Selatan sebanyak 300 wayang golek mini.
Adapun untuk pasar dalam negeri, Muadz mampu menjual 200 wayang golek mini per bulan. Dengan harga mulai Rp 100.000 hingga Rp 500.000 per item, saban bulan ia mampu meraih omzet hingga Rp 50 juta.
Endhi Suryadi asal Bandung, Jawa Barat, juga membuat miniatur wayang golek. "Prospeknya lumayan cerah sebab merupakan seni kreatif dan pemainnya masih relatif sedikit," katanya.
Memulai usaha sejak 2008, Endhi tergerak untuk terjun ke bisnis pembuatan miniatur wayang karena tergiur dengan keuntungannya. Selain itu, dia ingin menjaga kelestarian kesenian tradisional Sunda.
Dengan mempekerjakan 20 orang, Endhi banyak memakai tenaga kerja yang memiliki keahlian membuat miniatur wayang golek. "Namun, banyak juga yang masih awam sehingga perlu di-training selama satu bulan dulu," ujarnya.
Endhi mengatakan, untuk membuat satu miniatur wayang golek istimewa, kira-kira membutuhkan waktu paling lama dua minggu. Sementara untuk menghasilkan miniatur wayang golek biasa hanya memerlukan hitungan hari saja.
Harga miniatur wayang golek buatan Endhi mulai dari Rp 10.000 untuk produk gantungan kunci sampai Rp 65.000 untuk ukuran 21 sentimeter.
Tak hanya wayang golek mini, Endhi juga kerap melayani pemesanan wayang golek raksasa dengan ukuran mencapai dua meter. "Sebulan bisa ada dua pesanan wayang golek raksasa yang masuk. Harganya bisa Rp 8 juta hingga Rp 10 juta," katanya.
Ditambah penjualan wayang golek mininya, penghasilan Endhi per bulan mencapai Rp 50 juta. Omzet itu baru dari penjualan produk yang pemasarannya ke seluruh Indonesia.
Soalnya, Endhi juga melego miniatur wayang golek buatannya ke sejumlah negara, seperti Kanada, Jerman, dan Belanda. Khusus wayang golek berukuran jumbo, menurutnya, kalau sudah sampai ke tangan pembeli luar negeri, harganya bisa melonjak hingga Rp 20 juta, tergantung motif dan ukurannya. "Selain unik dan khas Indonesia, orang asing sangat suka dengan ukiran-ukiran wayang bentuk mahkota," katanya.
Kalau Muadz dan Endhi memproduksi miniatur wayang golek, Rusmadi membuat wayang kulit mini. Perajin wayang kulit asal Yogyakarta ini menuturkan, untuk membikin wayang kulit mini dibutuhkan bahan baku berupa kulit sapi perkamen dan kayu jati atau mahoni.
Rusmadi biasa membeli kulit sapi lembaran yang sudah disamak dari sebuah pabrik di Magetan, Jawa Timur. "Setiap bulan saya dipasok satu kuintal. Kalau dulu ayah saya bisa beli sampai satu ton," ungkap Rusmadi yang berguru membuat wayang kulit dari sang ayah tercinta.
Adapun bahan baku kayu jati atau mahoni, didapat Rusmadi dari limbah atau sisa-sisa produksi toko furnitur di Bantul, Yogyakarta. Tokoh-tokoh wayang kulit yang digemari masyarakat adalah Pandawa dan Punakawan, semisal Semar, Petruk, dan Gareng.
Tak hanya wayang kulit mini, Rusmadi juga tetap membuat wayang berukuran standar untuk pergelaran wayang ataupun koleksi.
Proses produksi wayang kulit mini pertama-tama dengan menggambar motif tokoh pewayangan pada lembaran kulit sapi dengan tinggi 30 sentimeter. Kemudian digunting mengikuti pola, baru dicat. Pada sentuhan akhir, batang kayu dipasang di sosok wayang dari bagian leher sampai sekitar lima sentimeter melewati batas bawah wayang.
Kayu-kayu itu juga dijadikan kelir atau layar tempat memainkan wayang. Tinggi kelir 30 sentimeter dengan panjang 40 sentimeter. "Tokoh wayang disusun berhadapan. Di tengah mereka ada gunungan," tutur Rusmadi. ( Ragil Nugroho, Mona Tobing, Gloria Natalia/Kontan)

Kamis, 24 Februari 2011

Tempat Wisata di Samarinda



Kawasan Wisata Budaya Pampang

Kawasan Pampang yang terletak sekitar 20 km dari kota Samarinda merupakan kawasan wisata budaya yang menarik untuk menyaksikan kehidupan suku Dayak Kenyah. Obyek wisata budaya ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor melalui jalan raya Samarinda-Bontang. Daya tarik yang dapat disaksikan adalah Lamin atau rumah adat suku Dayak serta tarian dan upacara adat Dayak Kenyah.

Air Terjun Tanah Merah

Terletak sekitar 14 km dari pusat kota Samarinda tepatnya di dusun Purwosari kecamatan Samarinda Utara. Tempat ini merupakan pilihan tepat bagi wisata keluarga karena dilengkapi pendopo istirahat, tempat berteduh dengan pohon peneduh di sekitar lokasi, warung, areal parkir kendaraan yang luas, pentas terbuka dan tempat pemandian. untuk mencapai obyek wisata tersebut, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun empat serta angkutan umum trayek Pasar Segiri - Sungai Siring. .


Penangkaran Budaya Makroman

Terletak di desa Pulau Atas, kecamatan Palaran dengan jarak lebih kurang 6 km dari Samarinda. Jenis buaya yang dipelihara yaitu buaya air tawar dan buaya Supit. Tempat pengembangbiakan buaya ini telah di lengkapi sarana dan prasarana wisata.



Kebun Raya Samarinda


Terletak di sebelah Utara kota Samarinda yang berjarak 20 km atau 30 menit perjalan darat. Di Kebun Raya Samarinda terdapat atraksi Danau alam, kebun binatang, panggung hiburan.
Telaga Permai Batu Besaung
Obyek wisata Telaga Permai Batu Besaung merupakan obyek wisata alam, terletak di Sempaja 15 km dari pusat kota Samarinda dengan kendaraan motor/mobil. Obyek wisata ini telah dilengkapi sarana dan prasarana wisata.


Kerajinan Tenun Ikat Sarung Samarinda


Terletak di jalan Bung Tomo Samarinda Seberang. Obyek wisata ini merupakan proses pembuatan sarung tradisional Samarinda, yang berjarak 8 km dari pusat kota Samarinda. Obyek tersebut telah dilengakapi sarana dan prasarana wisata. Kerajian tenun sarung ini pada mulanya dibawa oleh pendatang suku Bugis dari Sulawesi yang berdiam di sisi kiri Mahakam (sekarang menjadi Samarinda Seberang). Hampir disetiap perkampungan suku Bugis (kelurahan masjid Baka) dapat ditemukan pengrajin sarung Samarinda. Alat tenun yang digunakan para pengrajin adalah alat tradisional disebut "Gedokan" atau menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Produk yang dihasilkan untuk 1 (satu) buah sarung memakan waktu tiga minggu.


Taman Rekreasi Lembah Hijau

Obyek wisata Lembah Hijau merupakan obyek wisata alam, terletak di jalur jalan Samarinda - Bontang 15,5 km dari Samarinda dengan kendaraan mobil/motor. Atraksi yang terdapat obyek yang bersebelahan dengan pagar alam ini adalah tampilan atraksi yaitu replika hutan yang terdiri dari jenis kayu hutan Kalimantan serta tanaman rotan terdapat di lokasi wisata ini. Fasilitas yang tersedia adalah : cafetaria, pendopo pertemuan dan kolam pancing, camping ground.


Hutan Raya Unmul

Terletak 3 km dari terminal Lempake dilengkapi fasilitas olah raga, perahu wisata, mini zoo. Bagi wisatawan yang akan berkunjung ke obyek wisata alam Hutan Raya Unmul dapat menggunakan kendaraan roda 4 kendati di sana sudah tersedia petugas dan pusat informasinya..


 

Citra Niaga

Citra Niaga merupakan kawasan pusat perdagangan yang dirancang untuk menyediakan tempat usaha bagi pedagang kecil (60%) serta pedagang besar dan menengah (40%). Karena konsep pembangunan dan arsitekturnya yang estetis, Citra Niaga memperoleh penghargaan internasional Aga Khan Award pada tahun 1987.
Sebagai kota jasa dan perdagangan, di Samarinda terdapat 3 buah pusat perbelanjaan yang selalu ramai dikunjungi setiap harinya yakni Mal Lembuswana, Mal Mesra Indah dan Samarinda Central Plaza (SCP).

Desa Wisata Semakin Diperbanyak

Di tahun 2010, terdapat 560 desa wisata yang dikembangkan melalui PNPM mandiri bidang pariwisata. PNPM mandiri bidang pariwisata merupakan program Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. "Tahun 2011 akan dikembangkan 960 desa wisata," tutur Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenbudpar, Firmansyah pada acara pelaporan Rapat Kerja Teknis Destinasi Pariwisata, di Jakarta, Rabu (23/2/2011).
Desa-desa wisata ini tersebar di 33 provinsi. Firmansyah mengharapkan desa wisata agar mandiri dan tidak terus bergantung suntikan bantuan. Karena itu, pihaknya mensinergikan dengan unit usaha rakyat agar bersama-sama mengembangkan desa menjadi daya tarik wisata. "Kita juga fasilitasi dengan pihak perbankan agar menyalurkan kredit usaha," katanya.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Masyarakat, Bakri mengatakan bahwa desa wisata merupakan kampung-kampung budaya atau desa-desa yang dekat dengan objek wisata. "Banyak objek wisata yang banyak dikunjungi wisman, tapi ada juga objek wisata yang digemari wisnus. Kita perlu meningkatkan peran masyarakat agar mampu mengelola objek wisata," ungkap Bakri.
Ia menambahkan perlunya pembelajaran bagi penduduk bahwa objek wisata itu milik bersama. Bakri memberi contoh di kawasan Candi Borobudur. "Di sekitar candi ada desa-desa, penduduknya bisa menampilkan aneka seni, tarian, kuliner, atraksi. Mereka ada MoU dengan pihak pengelola Candi Borobudur," katanya.
Sehingga, tambah Bakri, jika pihak Candi Borobudur membutuhkan atraksi seni ataupun makanan khas, bisa menggunakan ketrampilan dari penduduk desa-desa tersebut.

Tak Bangga Lagi Disebut Pak Tani...

Bertani, bagi Daldiri (67), kini tak ubahnya bak perjudian. Bekal ilmu bercocok tanam ataupun strategi menaksir cuaca tak bisa lagi diandalkan. Cuaca ekstrem dan merebaknya hama membuat bulir-bulir padi di sawah petani hampa. Di tengah harga gabah yang tak berpihak kepada petani, ia merasa dimiskinkan.…
” Saya sampai tak bangga lagi kalau ada yang menyebut saya ini Pak Tani. Beda dengan 30-an tahun lalu saat banyak orang naik haji dari hasil bertani. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya lebih sering utang kepada tengkulak,” tutur petani di Desa Pesawahan, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu, Selasa (22/2/2011).
Saat ditemui, Daldiri sedang menanam benih padi di sawah seluas setengah bau atau 3.548 meter persegi (m) miliknya (1 bau sama dengan 7.096 meter persegi atau sekitar 0,7 hektar).
Masalah harus utang agar bisa menanam rupanya makin banyak dialami kaum tani. Dono (65), petani di Dusun Mojorejo, Laban, Sukoharjo, Jateng, misalnya. ”Ini ikhtiar kami sebagai petani, tetap bertanam. Coba-coba siapa tahu nasib baik meski harus berutang. Utang saya masih tersisa Rp 1 juta dan belum bisa saya lunasi sampai sekarang,” kata Dono yang baru saja menyemprot tanaman padinya dengan pestisida. Sebelum pulang, ia sempatkan juga mencari rumput untuk pakan sapinya. Meski sudah tiga kali gagal panen, Dono tak kapok kembali menanam padi. Bertani terpaksa dijalani meski terpaksa berutang untuk membeli pupuk serta ongkos tanam dan membajak.
Dono mengaku dapat pinjaman dari seseorang. Dari jumlah utang Rp 1 juta, ia harus mencicil Rp 100.000 per bulan selama 12 kali. Selama tidak ada pemasukan karena padinya gagal panen akibat serangan wereng, serta virus kerdil hampa dan kerdil rumput, Dono bekerja serabutan untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari, seperti menjadi buruh bangunan. Upah Rp 25.000 per hari digunakan untuk makan Rp 15.000 dan disimpan untuk membayar cicilan Rp 10.000.
Dono bercerita, sekarang ini biaya garap untuk satu musim tanam mencapai Rp 2 juta untuk satu patok lahan seluas 5.500 meter. Jika panen bagus, petani bisa memperoleh Rp 10 juta-Rp 12 juta.
Sukimin, petani di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, mengakui, bertanam padi dalam kondisi saat ini rentan terhadap serangan wereng coklat serta virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Itu sebabnya bertani mirip orang berjudi.
”Niki separone kados wong lotere. Wong tani wis mblenger (Setengahnya kami ini seperti berjudi. Petani sudah muak) karena gagal terus. Rata-rata petani pasti punya utang untuk modal tanam,” kata Sukimin.
Itu sebabnya tak semua petani masih bersemangat seperti Dono. Ada yang menyerah, membiarkan sawah terbengkalai karena kehabisan modal, sebagaimana dialami petani Dusun Menggungan, Desa Telukan, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Para petani di sana memilih menjadi buruh tani, buruh bangunan, atau mencari buah-buahan dari kampung dan dijual lagi ke pasar.
Kesulitan hidup yang dihadapi Daldiri mirip dengan Dono dan Sukimin. Saat waktu ashar tiba, Daldiri menepi ke pematang sawah dan mereguk teh pahit yang dibawa Mufaridah (6), cucunya.
Lebih dari 40 tahun, Daldiri bercucur keringat di sawah. Ayah lima anak dan kakek tujuh cucu itu dulu seorang juragan tani di desanya. Luas sawahnya pada medio 1980-an bahkan mencapai 5 hektar (ha). Jumlah yang sangat banyak dibandingkan dengan rata-rata petani di eks Karesidenan Banyumas yang kepemilikan lahannya saat ini hanya 0,25 ha hingga 0,5 ha.
”Banyak petani kaya saat itu. Bahkan, karena masih banyak lumbung padi, kami biasa menyimpan sebagian hasil padi untuk dijual lagi saat harga tinggi. Namun, sekarang semuanya diatur tengkulak,” kata Daldiri.
Daldiri ingat betul, 15 tahun lalu, 1 bau sawah miliknya masih menghasilkan gabah 5 ton. Namun, 5 tahun terakhir, produktivitas sawah menyusut jadi 3 ton. Penyebabnya serangan hama wereng batang coklat dan tikus yang kian ganas.
Musim tanam hujan yang dimulai September lalu pun, ia sampai tiga kali tanam ulang karena benih padi yang sudah ditanam diserang wereng saat berumur 25 hari. Saat musim panen rendeng ini, Daldiri menjual gabahnya Rp 2.400 per kilogram. Dari 3.500 meter sawah miliknya, Daldiri mengaku hanya meraup pendapatan sekitar Rp 3,2 juta.
Namun, ia harus menyisihkan Rp 1,5 juta untuk modal tanam musim selanjutnya. Selain itu, ia juga harus membayar Rp 700.000 ke kios, koperasi unit desa, dan rentenir untuk menutup utang pupuk, pestisida, dan ongkos bajak. Sisanya hanya Rp 1 juta. Artinya, pendapatan Daldiri selama bertani pada September-Januari hanya Rp 250.000 per bulan.
Kondisi inilah yang membuat Daldiri dan Saniyem (63), istrinya, menjual satu per satu petak sawah mereka sejak 10 tahun terakhir. Mereka bahkan hanya bisa membagi sawah 1 hektar sebagai warisan kepada lima anaknya masing-masing seluas 2.000 meter persegi. ”Kini sisa utang saya masih Rp 7 juta. Semoga bisa dilunasi sebelum saya meninggal,” katanya.
Pemiskinan serupa dialami Guyub Winaryo (54), petani di Desa Sukawera Kidul, Kecamatan Patikraja, Banyumas. ”Pada 1980-an, setiap kali panen, orangtua saya selalu membeli emas dan sawah baru. Dulu, untuk membeli emas 3 gram hanya butuh gabah 1 kuintal. Sekarang 1 kuintal gabah belum bisa beli 1 gram (asumsi harga emas Rp 330.000 per gram),” katanya.
Setelah era pertanian pupuk kimia, tabiat tanah pun berubah tak ramah. Iklim ekstrem kini membuyarkan irama alam yang pemurah. Hama mengganas tak terbasmi, sedangkan biaya produksi kian tinggi....

Rabu, 23 Februari 2011

Dijual Satria FU Tahun 2009

Dijual Satria FU Tahun 2009 Harga Nego Posisi Motor Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Mobil Yaris S AT. Limited tahun 2006 Warna Biru.

Dijual Mobil Yaris S AT. Limited tahun 2006 Warna Biru.  Harga 147Nego Ada Tv Pioneer & Sond System Butuh Uang cepat Posisi Mobil Samarinda hub; Telpon(0541)7751197 Sms/085246902754

Kalla: Berilah Contoh Lewat Buku!

Ketua Umum Palang Merah Indonesia M Jusuf Kalla mengatakan, tanpa buku, suatu bangsa tidak akan maju. Namun, di Indonesia, toko buku justru sulit dijumpai.
"Buku seharusnya menjadi kebutuhan. Membaca justru akan jadi hobi yang bermanfaat. Membudayakan membaca harus terus dilakukan tanpa henti," kata Kalla dalam pembukaan Kompas Gramedia Fair di Istora Bung Karno, Jakarta, Rabu (23/2/2011).
Menurut Kalla, cara paling baik untuk menumbuhkan minat baca adalah dengan memberikan contoh. Di keluarga, orangtua harus menjadi contoh nyata suka membaca. Dalam memberi hadiah untuk anak, misalnya, seharusnya lebih sering memberi buku-buku bacaan sesuai umur dibandingkan dengan games atau handphone.
"Dari contoh yang diperlihatkan kepada anak, nanti jadi kebiasaan. Lalu jadi kebutuhan dan hobi yang tidak putus. Dengan demikian, permintaan atas buku semakin banyak dan buku pun berkembang dalam banyak aspek," papar Kalla.
Pada pembukaan Kompas Gramedia Fair itu juga diluncurkan buku Pak Kalla dan Presidennya. Buku tersebut ditulis wartawan Kompas Wisnu Nugroho.

Sosis Tempe Raup Rp 30 Juta Per Bulan

Tempe bisa menjadi bahan dasar sosis. Produk ini sangat cocok bagi vegetarian atau orang yang diet kolesterol. Penjualan pun melimpah karena harga jual yang tentunya lebih murah. Pengusaha sosis tempe bisa meraup omzet hingga Rp 30 juta per bulan.
Sosis merupakan salah satu produk olahan daging yang memiliki banyak penggemar. Selama ini kita sering mendapati makanan ini berbahan daging sapi atau ayam. Namun, kini bermunculan produk sosis rasa lokal dengan bahan dasar dari tempe.
Sebagai bentuk variasi makanan, tempe bisa juga menjadi bahan baku sosis. Kedelai yang merupakan bahan baku tempe bersifat hidrofolik. Kedelai mampu menyerap dan menahan air, membentuk selaput, membentuk gel, mempunyai daya rekat tinggi, dan bersifat pengental.
Selain itu, Indonesia juga merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Alhasil, sosis tempe juga punya prospek cerah.
Menurut Ayu Safitri, pemilik The Sozzis, kendati tak menggunakan bahan pengawet, sosis tempe buatannya memiliki daya tahan yang lama. Saat pembuatan, sosis tempe juga melalui proses pengasapan. Tujuannya, memberikan cita rasa khas, mengawetkan, menghasilkan produk yang khas, dan mencegah oksidasi.
Nah, setelah dibungkus dengan plastik tipis, sosis tempe dikemas dengan sistem kedap udara. Cara ini untuk menghindari masuknya organisme dan bisa memperpanjang daya tahan sosis. "Sosis tempe menjadi pilihan makanan bergizi tinggi sehingga anggapan tempe sebagai makanan kelas bawah akan terhapuskan," kata Ayu.
Dengan harga jual Rp 2.000 per potong, Ayu bisa menjual 500 potong The Sozzis tiap hari. Alhasil, ia bisa mengumpulkan omzet Rp 30 juta sebulan. Sosis tempe The Sozzis telah tersebar di Yogyakarta, Semarang, Malang, Surabaya, hingga Jakarta.
Selain Ayu, tujuh mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, juga mengembangkan produk sosis tempe. Sejak pertengahan 2009, mereka yang tergabung dalam Pusat Pengembangan Kewirausahaan Mahasiswa membuka Outlet Sehat di Kota Gudeg itu.
Maula Paramitha, salah satu pemilik Outlet Sehat, mengklaim bahwa sosis tempenya sehat karena bebas kolesterol. Sebagai pembungkus sosis, mereka menggunakan adonan telur. Adonan telur itu dikeraskan hingga teksturnya benar-benar menyerupai usus sapi yang sering menjadi kulit sosis. "Jadi, secara keseluruhan benar-benar bebas daging sehingga cocok bagi vegetarian," ujar Maula.
Sosis tempe memang mengincar pasar dari kalangan vegetarian dan konsumen yang sedang berdiet daging. Sama seperti The Sozzis, sosis tempe buatan mahasiswa UGM ini juga berharga Rp 2.000 per buah. (Rivi Yulianti, Ragil Nugroho/Kontan)

Logam Mulia Mahal, Bagaimana Perhiasan?

Harga emas perhiasan tidak selalu mengikuti kenaikan harga emas batangan (logam mulia) yang cenderung meningkat belakangan ini. Saat ini harga emas di pasaran dunia sekitar 1.400 dollar Amerika Serikat per troy ounce.
"Harga emas batangan memang lagi naik, tetapi belum tentu harga emas perhiasan juga naik," kata Teddy, karyawan toko emas Ratu di Jalan Paseban, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (23/2/2011).
"Kalau kenaikan harga logam mulia sedikit, misalnya naik Rp 1.000-Rp 2.000, maka kami ngalah. Namun kalau harga naik sampai Rp. 10.000, kami baru naikkan harga," kata Teddy.
Tidak hanya harga emas perhiasan, harga emas batangan juga tidak konsisten kenaikannya. "Harga emas batangan atau logam mulia ukuran terkecil, 5 gram, hari ini Rp 405.000, turun dibandingkan dengan harga kemarin yang mencapai Rp. 410.000," ujar seorang karyawan toko emas Nanjak di Jalan Paseban 3c.
Kenaikan harga yang masih fluktuatif memang diikuti oleh kenaikan jumlah warga yang menjual emas. "Namun, peningkatan jumlah orang yang menjual emas belum meningkat drastis," ucap Teddy.
Kisaran harga emas perhiasan di Paseban untuk emas 23 karat sebesar Rp 280.000 per gram, sedangkan emas 24 karat berharga Rp 380.000 per gram.

Selasa, 22 Februari 2011

Dijual All New Jazz RS M/T Warna Merah Samarinda

Dijual All New Jazz RS M/T Warna  Merah Tahun 2009 Harga 199Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Jazz RS Warna Silver Stone Tahun 2009

Dijual Jazz RS Warna Silver Stone Tahun 2009 Harga 199Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Ford Everest 4X4 XLT Turbo Intercouler Tahun 2004 Samarinda

Dijual Ford Everest 4X4 XLT Turbo Intercouler Tahun 2004  Harga 135Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Mazda 2 Warna Hijau Tahun 2010

Dijual Mazda 2 Warna Hijau Tahun 2010 Ada Sound System. Harga Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Xenia Li Tahun 2008 Warna Silver

Dijual Xenia Li Tahun 2008 Warna Silver Metalik, Full Variasi Harga 112Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Terios TX Adventure 2010 Putih

Dijual Terios TX Adventure 2010 Putih Harga Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Terios TX Adventure 2009 Hitam

Dijual Terios TX Adventure 2009 Hitam Harga Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Terios TX Adventure 2009

 Dijual Terios TX Adventure 2009 Harga 191Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Feroza Tahun 1994

Dijual Feroza Tahun 1994 Fas AC, Tape, VR, Harga 47Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Dijual Toyota Hartop Tahun 1981

Dijual Toyota Hartop Tahun 1981 Fas AC, PS, PW, CL, VR Ban Baru Harga 67Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754 

Dijual Toyota Hartop Tahun 1981

Dijual Toyota Hartop Tahun 1981 Fas AC, PS, PW, CL, VR Ban Baru Harga 67Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754 

Dijual Xenia Li Tahun 2008

Dijual Xenia Li Tahun 2008 Warna Hitam Metalik, Full Variasi Harga 112Jt/Nego Posisi Mobil Samarinda Hub; Telpon(0541)7751197
Sms/085246902754

Ingin Ubah Dunia, Ubahlah Diri Sendiri

Jika menyebut nama besar Martha Tilaar, sosok yang akan Anda temukan pertama kalinya adalah pengusaha perempuan yang ramah, istri dan ibu empat anak yang penuh kasih, dengan penampilan yang masih segar di usia 74 tahun. Selanjutnya, Anda akan melihat sosok perempuan "djitu" yang sukses dengan berbagai pencapaian dan kontribusi yang diakui di skala nasional maupun internasional. Takkan cukup waktu membedah deretan prestasi yang diraihnya, baik sebagai pribadi maupun korporasi. Martha, bersama keluarga, terbukti mumpuni dengan fokus menjalani bisnis kecantikan Martha Tilaar Group sejak 41 tahun silam.

Bisnis keluarga yang konsisten bergerak di bidang kecantikan dan perawatan tubuh ini dibangun dengan mimpi sederhana. "Saya pulang dari Amerika, dengan gelar beautician, ingin mempercantik perempuan Indonesia dan dunia. Almarhum ayah saya bilang, have a big dream and start small. Jika ingin mengubah dunia, ubahlah diri sendiri lebih dahulu. Jangan mengeluh dan jangan menyalahkan orangtua karena tak punya banyak uang. Saya punya mimpi besar namun tak punya cukup uang. Namun, saya berpikir bagaimana caranya mengubah diri sendiri untuk mewujudkan mimpi," tutur Dr Martha Tilaar saat bincang-bincang bersama Kompas.com di kantor dan pabrik miliknya di Pulo Gadung, Jakarta, Kamis (17/2/2011) lalu.

Manusia "djitu"
Cara mengubah diri adalah dengan menjadi manusia "djitu", kata perempuan yang memiliki latar belakang profesi sebagai guru ini. Prinsip "djitu" inilah yang menjadi fondasi Martha Tilaar dalam mewujudkan mimpinya mengelola bisnis kecantikan. Sepulang merantau mengambil kuliah kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, dan bekerja di Campes Beauty Salon, Indiana University, Amerika, pada 1970, Martha Tilaar memantapkan hati merintis bisnis dari salon kecil yang diberi nama Martha Salon.

"Djitu", jelasnya, adalah disiplin, jujur, iman atau saat ini lebih relevan diartikan sebagai inovasi, tekun, dan ulet. "Disiplin dengan selalu menepati waktu, jujur, inovatif proaktif dengan mengejar pola dan jangan menunggu pola, tekun dengan selalu bersikap fokus, ulet dengan bekerja keras serta berkomitmen dan gigih untuk terus menggali lagi pekerjaan yang belum selesai," ujar perempuan kelahiran Kebumen, 4 September 1937 ini.

Terbukti, dengan mengaplikasikan "djitu", Martha Tilaar berhasil mengembangkan perusahaan kosmetika dan perawatan tubuh ternama yang dirintisnya dari garasi rumah. "Setelah memulai salon kecil di rumah, teman bapak saya menitipkan rumah yang kemudian saya jadikan salon kedua yang jauh lebih besar dari yang ada di garasi rumah. Dalam setahun, saya bisa membeli sebuah rumah lagi untuk mengembangkan Martha Salon. Ini semua akibat dari menjadi manusia 'djitu' dan trust," lanjut istri Prof Dr Henry Alexis Rudolf Tilaar itu.

Martha Salon yang awalnya hanya berukuran 4 x 6 meter, semakin berkembang dengan banyak cabang. Salon milik Martha menjangkau pasar lebih besar berkat promosi dari mulut ke mulut, juga dengan brosur yang dititipkan melalui loper koran. Sejalan dengan itu, sekolah kecantikan Puspita Martha tak kalah pesat perkembangannya.
"Juga karena trust, saya mendapatkan pinjaman uang untuk memperbesar sekolah kecantikan," tutur Martha yang menikmati suntikan dana senilai Rp 172 juta di era 80-an untuk membangun Puspita Martha. Sejak awal merintis bisnis, Martha Tilaar terbukti konsisten dengan misinya, bahwa kecantikan perempuan tak semata fisik saja, namun juga menambah wawasan dan keterampilan melalui pendidikan.

Siapa menyangka, mimpi besar Martha Tilaar membangun bisnis kecantikan terwujud dari dana yang serba minim. Untuk menyiasati minimnya kondisi keuangan pada awal pendirian usaha, Martha bersinergi bersama keluarga. "Ayah saya bilang, saya punya mimpi besar namun tidak punya uang. Akhirnya, keluarga bergotong royong membangun mimpi ini," tuturnya.
Seluruh anggota keluarga kemudian membagi porsi modal. "Adik saya 30 persen, adik saya yang satunya 10 persen, saya dan ayah masing-masing 30 persen," lanjutnya.

Riset pasar
Setelah kendala modal terselesaikan, muncul lagi tantangan berikutnya. Bagaimana menggunakan modal seadanya ini agar tepat guna. "Saya membaca pesaing, yakni salon yang sudah ada saat itu. Uang saya sedikit, jadi harus bisa menggunakannya dengan baik agar tak terpakai untuk hal yang aneh-aneh," tuturnya sederhana. Kunci sukses Martha dalam memulai bisnisnya adalah mencipta konsep bisnis yang unik dan berbeda. "Yang berbeda itu yang laku," kata lulusan Jurusan Sejarah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta tahun 1963 ini.

Alhasil, dengan dana terbatas namun dikuatkan oleh riset, Martha Salon berdiri di Jalan Dr Kusumaatmaja Jakarta. "Yang saya lakukan adalah membeli hot and cold water, air conditioner dan generator. Meski salon hanya berukuran 4 x 6 meter di garasi rumah, tetapi saya memiliki konsep yang berbeda. Furnitur saat itu menggunakan bambu, karena saya tidak punya cukup uang," kisah Martha.
Meski berukuran mini, Martha Salon hadir berbeda di zamannya. Di era 70-an hanya salon berkelas di Hotel Indonesia yang dilengkapi perlengkapan mewah seperti pendingin ruangan. Bahkan, sejumlah salon ternama di zaman itu tak punya fasilitas yang bikin suasana nyaman. Tak heran jika semakin banyak pelanggan yang kebanyakan adalah para ibu duta besar yang betah berlama-lama di Salon Martha.

Melestarikan kearifan lokal
"Local Wisdom Go Global" menjadi misi Martha Tilaar Group yang terilhami dari petuah leluhur. "Eyang adalah mahaguru bagi saya. Beliau bilang jika ingin berusaha dan menggunakan tanaman, maka harus menanam kembali. Jika ingin sukses bisnis maka harus berbagi. "Tri Hita Karana", juga harus diterapkan. Bahwa hubungan harus harmonis antara manusia dengan pencipta, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan," tutur Martha, menambahkan sejak awal berdirinya perusahaan, kearifan lokal konsisten dijalankan.

Produk kosmetika maupun perawatan tubuh dan spa yang dihasilkan dari pabrik Martha Tilaar Group punya pertanggungjawaban terhadap konsumen. "Riset dan pengembangan produk selalu memerhatikan lingkungan. Gerakan menaman kembali dijalankan melalui Kampoeng Djamoe, yang juga menjadi wadah melatih petani secara gratis, dan pusat tanaman organik," katanya.

Empat pilar Martha Tilaar Group, Beauty Education, Beauty Culture, Beauty Green, Empowering Women adalah juga penerjemahan dari konsep berbagi dan keseimbangan yang melandasi bisnis kecantikan ini. "Sejak awal saya ingin melestarikan budaya, kekayaan alam, untuk mempercantik perempuan Indonesia lahir dan batin," kata Martha yang menilai pelestarian kearifan lokal sebagai kunci keberhasilan bisnis kecantikan miliknya.

Meski mengaku masih mengimpor bahan baku kosmetik dekoratif, Martha juga mengandalkan riset dan pengembangan produk dari bahan baku lokal. Produk skin care, body care spa, hair care berasal dari bahan baku lokal, katanya. Seperti ekstrak beras untuk menciptakan produk perawatan rambut, atau buah langsat untuk produk pemutihan kulit.
Belajar dari "dukun" juga dilakoni Martha untuk melestarikan produk lokal. "Saya melakukan riset dengan mendatangi dukun untuk menyalin resep tradisional yang mereka gunakan, seperti jamu yang bisa diberikan kepada perempuan usai persalinan. Orang menganggap saya mistik, namun saya lebih melihatnya sebagai riset untuk menggali kekayaan budaya bangsa. Suami saya mendukung penuh riset yang saya lakukan. Katanya, jika satu dukun meninggal, satu perpustakaan terbakar," tutur Martha yang bersuamikan profesor pendidikan.

Mengandalkan kekuatan riset dan 37 peneliti di Martha Tilaar's Innovation Center (MTIC), Martha sukses memproduksi merek kosmetika, perawatan tubuh, spa, dan jamu yang dikenal hingga mancanegara. Sebut saja Sariayu, Caring, Belia, Rudy Hadisuwarno Cosmetics, Biokos, Professional Artist Cosmetics (PAC), Aromatic, Jamu Garden, dan Dewi Sri Spa. Sebagai korporasi, Martha Tilaar Group juga berhasil meraih ISO 9001, ISO 14000, dan Sertifikasi GMP di Asia pada 1996.

Prinsip berbagi yang melandasi bisnis kecantikan Martha Tilaar diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan, terutama bagi perempuan. Maklum, 70 persen dari 5.000 karyawan Martha Tilaar Group adalah perempuan. Tak sedikit di antara kaum hawa ini yang mendapatkan kesempatan belajar dan sekolah cuma-cuma untuk mengembangkan dirinya. Mulai pekerja di ranah rumah tangganya hingga ahli seperti peneliti di perusahaannya. Martha tak sungkan mengirim peneliti belajar etnobotany ke Perancis dan medical antropology di Leiden, Belanda. "Pendekatan sains dibutuhkan untuk mengembangkan produk lokal," katanya.

Fokus
Satu lagi kunci sukses bisnis Martha Tilaar, fokus pada satu bidang, yakni kecantikan. "Saya mulai bisnis dari salon, lalu sekolah, pabrik, distribusi yang semuanya bergerak di bidang kecantikan," ujar ibu dari Bryan David Emil Tilaar, Pingkan Engelien Tilaar, Wulan Maharani Tilaar, dan Kilala Esra Tilaar.

Konsistensi yang terjaga sejak awal bermimpi mempercantik perempuan Indonesia nyatanya membawa segudang pencapaian bagi Martha, sebagai individu maupun korporasi. Januari 2011 lalu, Martha Tilaar Group terpilih sebagai salah satu perusahaan role model untuk menjalankan platform Global Compact Lead inisasi Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Sebelumnya, 20 Mei 2010, Kementerian Hukum dan HAM menobatkan Dr Martha Tilaar sebagai duta pendidikan dan pelatihan ham. Konsistensinya dalam bisnis kecantikan juga memberikan Martha sejumlah penghargaan entrepreneurship.
Berbagai inovasi, Martha Tilaar Group juga melahirkan prestasi seperti PR Award untuk Kampoeng Djamoe dan sejumlah penghargaan lainnya untuk berbagai produk kosmetika inovasinya.  "Bisa menjadi role model yang diakui PBB adalah sebuah pencapaian. Selain juga meyakinkan anak muda bahwa mereka bisa mengembangkan apa saja dari lingkungannya," kata penulis sejumlah buku, yang satu di antaranya berjudul "Kecantikan Perempuan Timur" ini.

Kepedulian Martha dalam menjalankan bisnis dengan melestarikan lingkungan dan kearifan lokal, juga dilirik organisasi lingkungan. Martha berpartisipasi aktif dalam World Wild Fund Indonesia (WWF) dan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) sebagai board of trustees.

Mental "djitu" menjawab tantangan
Membangun entrepreneurship harus dibekali mental "djitu", tegas perempuan yang melahirkan anak pertama di usia 42 tahun setelah 16 tahun menikah. Mental "djitu" inilah yang menguatkan bisnis dan dirinya dalam menghadapi berbagai kendala. Bagaimanapun, kesuksesan yang dinikmati saat ini bukan didapati tanpa hambatan dan tantangan. Sepanjang perjalanan, hambatan dari luar lebih menjadi kendala bisnis Martha Tilaar. Keharmonisan hubungan dalam keluarga, profesionalisme dan sikap saling menghargai yang dibangun sebagai budaya kerja melatari kesuksesan Martha Tilaar Group.

Sementara menyambut tantangan di era perdagangan bebas dengan AFTA, Martha sudah bersiap dengan berbagai inovasi. Sistem kerja sama dengan konsep franchise dipilih Martha untuk mempromosikan produk lokal ke tingkat dunia. Melalui Martha Tilaar Shop, produk lokal dari dapur riset Martha diyakini akan mendunia. Kematangan bisnis ini juga lah yang membuat Martha percaya diri  memasuki lantai bursa pada akhir 2010 lalu.  "IPO Martha Tilaar (PT Martina Berto-RED) over subsrcibe," katanya bangga.
Ke depan dana ini akan dimanfaatkan untuk meningkatkan riset dan pengembangan produk, pembangungan pabrik baru di Cikarang, selain juga mengembangan Martha Tilaar Shop di Asia Pasifik. "R&D perlu terus dikembangkan untuk menghasilkan produk yang bisa memenuhi kebutuhan perawatan kulit Asia. Kita jangan menjadi katak dalam tempurung," jelas Martha yang siap dan yakin dengan bisnis kecantikannya menyongsong era AFTA 2015 nanti.

Mengolah Sampah Menjadi Uang

Ibu Kidem (58) tampak serius dengan mesin jahit di hadapannya. Sesekali dia menggunting sisa benang, kemudian kembali menginjak pedal dan mulai menjahit.
Tidak seperti para pejahit yang biasanya menjahit kain untuk dibuat menjadi pakaian, Kidem sedang menjahit potongan-potongan berbagai kemasan produk yang terbuat dari plastik untuk dijadikan tas.
Mendaur ulang sampah kemasan produk berbahan plastik adalah usaha yang baru saja digeluti Kidem. Dia tidak pernah menyangka jika kemasan plastik yang dulu selalu dia buang ternyata bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
"Saya mulai mendaur ulang sampah sejak tahun 2008. Merintis dari nol dan waktu itu ada yang mengajarkan dari warga sekitar yang sudah lebih dulu bisa. Iseng aja ikut pelatihan, lalu saya tertarik dan mulai mencoba usaha ini," kata Kidem saat ditemui di Jalan Delima, Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (21/2/2011).
Bukan proses yang mudah untuk mendaur ulang sampah menjadi produk yang bisa digunakan kembali, butuh waktu hampir seminggu untuk membuat satu buah tas ukuran besar. Menurutnya, sampah kemasan plastik yang dikumpulkan harus dibersihkan terlebih dahulu.  Proses pencucian bahan dasar (sampah kemasan plastik) hingga pengeringan memakan waktu empat hari, kemudian bahan dasar dipotong menurut pola yang ingin dibentuk, baru dijahit.
"Kami nyuci-nya gak sembarangan, kami rendam, kucek, dikasih pemutih supaya gak bau. Namanya juga ngambil bahannya dari tempat sampah, jadi harus benar-benar bersih mencucinya," kata Kidem.
Proses menjahit pun tidak mudah, bahan dasar tidak langsung dijahit begitu saja. Untuk membuat tas, dia membutuhkan lebih dari 100 lembar bahan dasar, hal ini dikarenakan untuk satu lembar bahan dasar hanya bisa mendapatkan dua hingga tiga lembar potong pola.
"Itu kalo bahan dasarnya ada, tetapi kadang kita harus menunggu dulu karena tidak semua kemasan plastik cocok, baik dari segi model maupun warna. Oleh karena itu, harus sabar," tutur Kidem yang mengaku mendapatkan bahan dasar dari Koperasi Bank Sampah yang ada di kampungnya binaan Yayasan Unilever Indonesia.
Koperasi Bank Sampah dikelola secara mandiri oleh warga Jalan Delima III. Secara rutin warga mengirimkan sampah yang telah dipilah untuk ditimbang dan dijual. Dari sinilah Kidem mendapatkan bahan dasar untuk usahanya. Selain lebih murah, dia tidak perlu jauh-jauh mencari bahan.
Karena faktor usia, Kidem tidak menjalani usaha ini sendirian, dia mengajak keempat temannya untuk turut bekerja. Biasanya keempat temannya mendapatkan tugas mencuci bahan dasar, mengeringkan, menggambar, dan menggunting pola. Untuk urusan jahit-menjahit diserahkan kepada Kidem.
"Kalo kerja sendirian, saya gak kuat. Pernah sekali dapat pesanam 50 tas, saya kerjainnya dengan teman-teman, itu aja memakan waktu 1,5 bulan," kata Kidem.
Produk daur ulang yang telah jadi bisa memiliki nilai yang lebih tinggi. Harga yang dipatok pun bervariasi, mulai dari Rp 35.000 hingga Rp. 50.000, paling murah Kidem menaruh harga Rp 10.000 dan Rp 150.000 yang paling mahal. Dari usaha ini Kidem tidak mengambil keuntungan banyak, dia hanya meraup keuntungan Rp 25.000 hingga Rp 50.000.
"Nah keuntungan itu saya bagi lagi dengan teman-teman, biasanya sih 60-40. Saya 60 persen, teman-teman saya berempat 40 persen," kata Kidem menjelaskan pembagian keuntungan.
Sempat bekerja di konveksi mulai dari tahun 1986 hingga 1996 membuat ibu yang memiliki enam anak ini tidak kesulitan menggeluti usaha ini. Dari usaha daur ulang sampah ini, Ibu Kidem mampu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.
"Anak-anak saya, sih, sudah pada besar dan berkeluarga jadi keuntungan yang saya dapatkan dipakai buat kebutuhan saya dan suami saja, lumayan buat tambah-tambah" ujarnya.

Senin, 21 Februari 2011

Potensi Besar tapi Tidak Dioptimalkan

Potensi ketersediaan bahan baku biogas di Tanah Air sangat besar. Namun demikian, energi alternatif itu masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal biogas dapat mendukung kebutuhan energi bagi industri rumah tangga dan usaha kecil menengah (UKM).
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, pengembangan biogas sangat prospektif mengingat besarnya populasi hewan ternak dan agrikultur. Pada tahun 2009, Indonesia memiliki 13 juta ekor sapi perah dan sapi potong, serta 28 juta ekor kambing, domba, kerbau.
Menurut pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Vince Gowan, bisnis pengembangan biogas prospektif. "Apalagi Indonesia memiliki banyak daerah potensial sebagai sumber biogas, terutama sentra-sentra peternakan sapi potong dan sapi perah," katanya di sela seminar mengenai biogas, Senin (21/2/2011) di Jakarta.
Nilai investasi biogas mencapai Rp 10 juta per unit. Targetnya, ada satu juta unit biogas dalam waktu tiga tahun ke depan dengan penyebaran di 7 provinsi, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Untuk mengembangkan biogas, menurut Vince, peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam bentuk pemberian insentif, alih teknologi, dan pelatihan. Di China, misalnya, pemerintah setempat sangat mendukung pengembangan biogas secara massal, antara lain dengan memberi insentif, misalnya berupa pinjaman lunak dan pembangunan pusat pelayanan biogas di setiap wilayah.
Biogas di Indonesia sudah lama dikembangkan namun belum optimal, karena dalam penerapannya masih bersifat proyek percontohan dan belum ada dukungan yang optimal dari pemerintah seperti kebijakan subsidi. Hambatan lain adalah, masih tingginya biaya pembuatan biogas bagi kalangan industri rumah tangga dan UKM.
Ramah lingkungan
Berdasarkan data BPS per Agustus 2010, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai sekitar 8,3 juta orang. Di sisi lain, dunia mengalami perubahan iklim yang merugikan manusia.
Peningkatan produktivitas nasional diharapkan dapat mengatasi masalah itu. Salah satunya melalui pengembangan kewirausahaan dan pengembangan daerah produktif yang ramah lingkungan, seperti pengembangan biogas sebagai sumber energi alternatif yang juga bermanfaat untuk mendukung kebutuhan energi bagi industri rumah tangga dan UKM.
Selain relatif tidak menimbulkan polusi, penggunaan biogas dapat menekan pengeluaran industri.